KONFLIK DALAM ORGANISASI
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya sehingga penulis berhasil menyelesaikan makalah ini. Alhamdulillah penulis menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini dalam rangka
memenuhi tugas kelompok mata kuliah Teori Organisasi Umum 1, yang berjudul “Konflik Dalam Organisasi”. Penulis mengucapkan terimakasih kepada orangtua,
teman-teman yang telah memberikan dukungan moril, terutama kepada dosen pengasuh yaitu Ibu Ira Phajar Lestari selaku dosen pengasuh mata kuliah Teori Organisasi Umum 1.
teman-teman yang telah memberikan dukungan moril, terutama kepada dosen pengasuh yaitu Ibu Ira Phajar Lestari selaku dosen pengasuh mata kuliah Teori Organisasi Umum 1.
Makalah ini berisikan mencakup tentang konflik dalam organisasi. Diharapkan makalah ini dapat
memberikan informasi dan ilmu pengetahuan kepada pembaca
dalam menghadapi konflik pada organisasi
maupun individu.
Penulis menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari
semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata, penulis
sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.
Aamiin.
Depok, 18 Oktober 2013
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
I.A. Latar Belakang
Organisasi adalah suatu
tempat di mana banyak orang berkumpul dan saling berinteraksi satu sama lain.
Organisasi bisa terbentuk karena adanya kesamaan misi dan visi yang ingin
dituju. Setiap anggota yang ada di dalam organisasi, secara langsung ataupun
tidak langsung harus yakin dengan apa yang menjadi prinsip di dalam organisasi
tersebut. Sehingga untuk mencapai visi dan menjalankan misi yang ditentukankan
dapat berjalan dengan baik. Tetapi seiring berjalannya waktu, di dalam
organisasi pasti pernah mengalami konflik. Baik konflik internal maupun konflik
eksternal antar organisasi atau anggota di dalamnya. Konflik yang terjadi bisa
karena permasalahan yang sangat sepele ataupun permasalahan yang benar-benar
penting.
Adanya
sekelompok orang di dalam organisasi tersebut pasti juga terdapat beberapa
pemikiran dan pendirian yang berbeda-beda. Pemikiran dan pendirian yang
berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat
memicu timbulnya konflik. Konflik tidak muncul
seketika dan langsung menjadi besar. Konflik itu berkembang secara bertahap.
Jadi, jika konflik sudah teridentifikasi sejak awal, dicarikan langkah
penyelesaian yang lebih dini, maka relatif lebih mudah dalam penanganan
konflik. Kebijakan-kebijakan dan cara
anggota berkomunikasi yang diterapkan pada suatu organisasi sangat mempengaruhi
keberlangsungan sebuah organisasi dalam mempertahankan anggota dan segenap
unsurnya.
Konflik dalam organisasi
sering dilihat sebagai sesuatu yang negatif. Oleh sebab itu, penanganan yang
dilakukan pun diarahkan kepada pernyelesaian konflik. Sebuah realita bahwa
konflik merupakan sesuatu yang sulit dihindari karena berkaitan erat dengan
proses interaksi manusia. Karenanya, yang dibutuhkan bukan meredam konflik,
tapi bagaimana menanganinya sehingga bisa membawa dampak yang tidak negatif
bagi organisasi. Akan
tetapi tidak semua konflik merugikan, asalkan konflik tersebut ditata dengan
baik maka dapat menguntungkan organisasi. Dan semua anggota bisa menjadikan
konflik dalam organisasi sebagai sebuah pembelajaran dan bagian pertimbangan atas
banyaknya pemikiran-pemikiran yang berbeda pada setiap anggota organisasi.
I.B. Maksud dan Tujuan
Pola pikir setiap manusia bisa dituangkan dalam sebuah
tulisan, dimana tulisan tersebut bisa mewakili apa yang ingin disampaikan.
Maksudnya adalah untuk membagikan informasi kepada pembaca tentang uraian
konflik dalam organisasi. Agar ke depannya kita sebagai anggota dari organisasi
manapun, khususnya pembaca lebih memahami mengenai konflik tersebut, dan juga
mengakibatkan pembaca bisa menjadi lebih bertoleran dengan sifat setiap
individu dalam berkelompok. Tujuan terpenting dari penulisan makalah ini ialah
sebagai salah satu alternatif solusi konflik dalam organisasi yang menyeluruh.
Disisi lain agar pembaca dapat memaknai konflik yang biasa terjadi dalam
kehidupan sehari-hari.
Penulisan ini diharapkan dapat menjadi saran atau
pesan yang bisa diambil manfaatnya dalam menghadapi sebuah konflik dalam
organisasi sehingga organisasi yang ada dapat tetap hidup dengan jati dirinya
untuk mencapai tujuan. Sebagai mahasiswa dan pembaca yang baik, semoga dapat
membaca dan memahami tulisan ini. Hal tersebut juga merupakan bentuk
partisipasi untuk bertoleran dan menerima kekurangan sifat yang berada satu
lingkup bersama. Khususnya makalah ini baik dikonsumsi para kawula muda-mudi
untuk menyelesaikan permasalahan di dalam organisasi. Yang berakibat menebalnya
mental kita untuk ikut dalam memahami setiap manusia dengan segala
keterbatasaanya.
I.C.
Ruang Lingkup
Banyak sekali bahasan mengenai konflik dalam
organisasi. Namun tentunya tidak semua lingkup akan dibahas dalam makalah ini.
Ada beberapa sub bab yang akan dijabarkan sebagai
salah satu topik konflik dalam organisasi, antara lain adalah:
1. Apa itu konflik?
2. Apa jenis dan sumber konflik?
3. Bagaimana strategi penyelesaian konflik?
4. Apa saja teori motivasi?
BAB II
PEMBAHASAN
II.A. Konflik
Konflik berasal dari kata kerja configere yang
artinya saling memukul. Dilihat dari sisi sosiologis, konflik diartikan sebagai
suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana
salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau
membuatnya tidak berdaya. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang
dibawa individu. Hal itu lalu menimbulkan perbedaan yang menyangkut ciri fisik,
kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Karena
ciri-ciri individu dibawa dalam hal interaksi sosial, konflik merupakan hal
yang wajar. Dalam kehidupan sehari-hari tidak satu masyarakat pun yang tidak
pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat
lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu
sendiri.
Definisi konflik menurut para ahli:
1. Nardjana (1994), konflik adalah akibat situasi dimana keinginan atau kehendak yang
berbeda atau berlawanan antara satu dengan yang lain, sehingga salah satu atau
keduanya saling terganggu.
2. Killman dan Thomas (1978), konflik adalah kondisi terjadinya ketidakcocokan antar nilai
atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun
dalam hubungannya dengan orang lain. Kondisi yang telah dikemukakan tersebut
dapat mengganggu bahkan menghambat tercapainya emosi atau stres yang
mempengaruhi efisiensi dan produktivitas kerja.
3. Wood, Walace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, dan
Osborn (1998), yang dimaksud dengan konflik (dalam ruang lingkup organisasi)
yaitu : Conflict is
a situation which two or more people disagree over issues of organisational
substance and/or experience some emotional antagonism with one another. Yang artinya, konflik adalah suatu situasi
dimana dua atau banyak orang saling tidak setuju terhadap suatu permasalahan
yang menyangkut kepentingan organisasi dan/atau dengan timbulnya perasaan
permusuhan satu dengan yang lainnya.
4. Stoner, konflik organisasi ialah mencakup ketidaksepakatan soal alokasi
sumberdaya yang langka atau peselisihan soal tujuan, status, nilai, persepsi,
atau kepribadian.
5. Daniel
Webster, mendefinisikan konflik
sebagai:
a. Persaingan atau pertentangan antara pihak-pihak yang
tidak cocok satu sama lain.
b. Keadaan
atau perilaku yang bertentangan.
6. Robbins, merumuskan konflik
sebagai sebuah proses dimana sebuah upaya sengaja dilakukan oleh seseorang
untuk menghalangi usaha yang dilakukan oleh orang lain dalam berbagai bentuk
hambatan yang menjadikan orang lain tersebut merasa frustasi dalam usahanya
mancapai tujuan yang diinginkan atau merealisasi minatnya.
Lebih jauh Robbins menulis
bahwa sebuah konflik harus dianggap ada oleh pihak-pihak yang terlibat dalam
konflik. Dengan demikian apakah konflik itu ada atau tidak ada, adalah masalah
persepsi dan bila tidak ada seorangpun yang menyadari bahwa ada konflik, maka
dapat dianggap bahwa konflik tersebut memang tidak ada. Tentu saja
ada konflik yang hanya dibayangkan ada sebagai sebuah persepsi ternyata tidak
riil. Sebaliknya dapat terjadi bahwa ada situasi-situasi yang sebenarnya dapat
dianggap sebagai bernuansa konflik ternyata tidak dianggap sebagai konflik
karena anggota-anggota kelompok tidak menganggapnya sebagai konflik.
Selanjutnya, setiap konflik
dalam organisasi konflik selalu diasosiasikan dengan antara
lain, oposisi (lawan), kelangkaan, dan blokade. Di asumsikan pula bahwa ada
dua pihak atau lebih yang tujuan atau kepentingannya tidak saling menunjang.
Kita semua mengetahui pula bahwa sumber daya dana, daya reputasi, kekuasaan,
dan lain-lain, dalam kehidupan dan dalam organisasi tersedianya terbatas.
Setiap orang, setiap kelompok atau setiap unit dalam organisasi akan berusaha
memperoleh sumber daya tersebut secukupnya dan kelangkaan tersebut akan
mendorong perilaku yang bersifat menghalangi oleh setiap pihak yang punya
kepentingan yang sama. Pihak-pihak tersebut kemudian bertindak sebagai oposisi
terhadap satu sama lain. Bila ini terjadi, maka status dari situasi dapat
disebut berada dalam kondisi konflik.
7.
Cathy A Constantino dan
Chistina Sickles Merchant, menyatakan bahwa konflik pada dasarnya adalah sebuah
proses mengekspresikan ketidak puasan, ketidak setujuan, atau harapan-harapan
yang tidak terealisasi. Kedua penulis tersebut sepakat dengan Robbins bahwa
konflik pada dasarnya adalah sebuah proses.
II.B. Jenis dan Sumber Konflik
Jenis Konflik
- Konflik antara atau dalam (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role)).
Misalnya saat
seseorang menerima perintah yang berbeda dari dua atasannya. Atasan yang satu
menyatakan harus menjaga jarak antar karyawan supaya kinerja tidak terganggu,
sementara atasan yang lain meminta agar semua karyawan mengutamakan kerja tim,
sehingga ia kesulitan menjalankan perannya.
- Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
Misalnya
tawuran yang terjadi antar sma 6 dan 70.
- Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
Misalnya
segerombolan pendemo di depan gedung dpr yang mengakibatkan timbulnya tawuran
antar polisi yang bertugas keamanan di sana.
- Konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara).
- Konflik antar atau tidak antar agama.
Misalnya
kita sering mendengar perbedaan pendapat antar kelompok islam fpi dan
muhammadiyah.
- Konflik antar politik.
Kubu
anas dan kubu sby.
Sumber
Konflik
- Faktor komunikasi
Misalnya pegawai lini
memiliki wewenang dalam proses pengambilan keputusan sementara staff lebih pada
memberikan rekomendasi atau saran. Sering pegawai lini merasa lebih penting,
sementara staff merasa lebih ahli. Ujung-ujungnya miss understanding di
kalangan pelaku organisasi karena informasi yang diterima kurang jelas atau
bertentangan dengan tujuan yang sebenarnya.
- Faktor struktur tugas maupun struktur organisasi
Misalnya dalam
hubungan kerja, bagian pemasaran ingin agar produknya cepat laku. Kalau perlu
dijual murah dan dengan cara kredit. Sebaliknya, bagian keuangan menghendaki
pembayaran harus tunai agar posisi keuangan perusahaan tetap stabil.
- Faktor yang bersifat personal
Misalnya di waktu
yang sama, seseorang harus membuat pilihan menerima promosi jabatan yang sudah
lama didambakan atau pindah tempat tugas ke tempat lain dengan iming-iming gaji
yang besar.
- Faktor lingkungan
Misalnya seseorang
yang harus menjual produk dengan harga tinggi, padahal dia sadar bahwa calon
konsumennya membutuhkan keuangan untuk ongkos sekolahnya.
II.C. Strategi Penyelesaian Konflik
- Kompetisi
Penyelesaian konflik yang
menggambarkan satu pihak mengalahkan atau mengorbankan yang lain. Penyelesaian
bentuk kompetisi dikenal dengan istilah win-lose orientation.
- Akomodasi
Penyelesaian konflik yang
menggambarkan kompetisi bayangan cermin yang memberikan keseluruhannya
penyelesaian pada pihak lain tanpa ada usaha memperjuangkan tujuannya sendiri.
Proses tersebut adalah taktik perdamaian.
- Sharing
Suatu pendekatan
penyelesaian kompromi antara dominasi kelompok dan kelompok lain untuk
berdamai. Satu pihak memberi dan yang lain menerima sesuatu. Kedua kelompok
berpikiran positif, dengan alasan yang tidak lengkap, tetapi memuaskan.
- Kolaborasi
Bentuk usaha penyelesaian
konflik yang memuaskan kedua belah pihak. Usaha ini adalah pendekatan pemecahan
problem (problem-solving approach) yang memerlukan integrasi dari kedua pihak.
- Penghindaran
Menyangkut ketidakpedulian
dari kedua kelompok. Keadaaan ini menggambarkan penarikan kepentingan atau
mengacuhkan kepentingan kelompok lain.
Terdapat
juga cara bersikap untuk penyelesaian konflik:
1.
Bersikap proaktif
Setiap
anggota tim harus turut aktif dalam menyelesaian
konflik secara proaktif.
2.
Komunikasi
Komunikasi
yang lancar dapat menghindari diri dari kesalahpahaman sehingga lebih
mudah dalam menyelesaikan konflik yang timbul.
3.
Keterbukaan
Setiap
anggota harus terbuka supaya konflik tidak berlarut-larut dan dapat
diselesaikan dengan baik. Dengan keterbukaan konflik yang terjadi dapat
ditangani sehingga menjadi konflik yang fungsional.
II.D. Teori Motivasi
Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas,
arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen
utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan. Dalam hubungan
antara motivasi dan intensitas, intensitas terkait dengan seberapa giat
seseorang berusaha, tetapi intensitas tinggi tidak menghasilkan prestasi kerja
yang memuaskan kecuali upaya tersebut dikaitkan dengan arah yang
menguntungkan organisasi.
Sebaliknya elemen yang terakhir, ketekunan, merupakan ukuran mengenai berapa
lama seseorang dapat mempertahankan usahanya.
Berikut
ini adalah 5 teori motivasi menurut para ahli:
- Teori Motivasi oleh Douglas Mc Gregor (Teori X dan Y)
Douglas
Mc Gregor menemukan teori X dan Y setelah mengkaji cara para manager
berhubungan dengan para karyawan. Ada empat asumsi negatif yang dimiliki oleh
manager dalam teori X, yaitu:
a. Karyawan
pada dasarnya tidak menyukai pekerjaan dan sebisa mungkin berusaha untuk
menghindarinya.
b. Karena
karyawan tidak menyukai pekerjaan, mereka harus dikendalikan atau diancam
dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
c. Karyawan
akan menghindari tanggung jawab dan mencari perintah formal (asumsi ketiga).
d. Sebagian
karyawan menempatkan keamanan di atas semua faktor lain terkait pekerjaan dan
menunjukkan sedikit ambisi.
Bertentangan
dengan pandangan-pandangan negatif mengenai sifat manusia dalam teori X, ada
empat asumsi positif yang disebutkan dalam teori Y, yaitu:
a.
Karyawan
menganggap kerja sebagai hal yang menyenangkan seperti halnya istirahat atau
bermain.
b.
Karyawan
akan berlatih mengendalikan diri dan emosi untuk mencapai berbagai tujuan.
c.
Karyawan
bersedia belajar untuk menerima, mencari dan bertanggung jawab.
d.
Karyawan
mampu membuat berbagai keputusan inovatif yang diedarkan ke seluruh populasi
dan bukan hanya bagi mereka yang menduduki posisi manajemen.
- Teori Motivasi oleh Abraham Maslow (Teori Hierarki Kebutuhan)
Teori motivasi yang paling terkenal adalah
teori Hirarki Kebutuhan oleh Abraham Maslow. Ia membuat hipotesis bahwa dalam
setiap diri manusia terdapat hierarki dari lima kebutuhan, yaitu fisiologis
(rasa lapar, haus, seksual, dan kebutuhan fisik lainnya), rasa aman (rasa ingin
dilindungi dari bahaya fisik dan emosional), sosial (rasa kasih sayang, kepemilikan,
penerimaan, dan persahabatan), penghargaan (faktor penghargaan internal dan
eksternal), dan aktualisasi diri (pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang,
dan pemenuhan diri sendiri).
Maslow memisahkan lima kebutuhan ke dalam
urutan-urutan. Kebutuhan fisiologis dan rasa aman dideskripsikan sebagai
kebutuhan tingkat bawah sedangkan kebutuhan sosial, penghargaan, dan
aktualisasi diri sebagai kebutuhan tingkat atas. Perbedaan antara kedua tingkat
tersebut adalah dasar pemikiran bahwa kebutuhan tingkat atas dipenuhi secara
internal sementara kebutuhan tingkat rendah secara dominan dipenuhi secara
eksternal. Teori kebutuhan Maslow telah menerima pengakuan luas di antara
manajer pelaksana karena teori ini logis secara intuitif. Namun, penelitian
tidak memperkuat teori ini dan Maslow tidak memberikan bukti empiris dan
beberapa penelitian yang berusaha mengesahkan, teori ini tidak menemukan
pendukung yang kuat.
- Teori Motivasi oleh David Mc Clelland (Teori Motivasi Kontemporer)
Teori motivasi kontemporer bukan teori yang
dikembangkan baru-baru ini, melainkan teori yang menggambarkan kondisi
pemikiran saat ini dalam menjelaskan motivasi karyawan. Teori kebutuhan
McClelland dikembangkan oleh David McClelland dan teman-temannya. Teori
kebutuhan McClelland berfokus pada tiga kebutuhan yang didefinisikan sebagai
berikut:
a.
Kebutuhan
pencapaian: Dorongan untuk melebihi, mencapai standar, berusaha keras untuk
berhasil.
b.
Kebutuhan
kekuatan: Kebutuhan untuk membuat individu lain berperilaku sedemikian rupa
sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya.
c.
Kebutuhan
hubungan: Keinginan untuk menjalin suatu hubungan antarpersonal yang ramah dan
akrab.
- Teori Motivasi oleh Herzberg (Teori Dua Faktor)
Herzberg memandang bahwa kepuasan kerja
berasal dari keberadaan motivator intrinsik dan bahwa ketidakpuasan kerja
berasal dari ketidakberadaan faktor-faktor ekstrinsik.
Faktor-faktor ekstrinsik (konteks pekerjaan)
meliputi: (1) Upah, (2) Kondisi kerja, (3) Keamanan kerja, (4) Status, (5)
Prosedur perusahaan, (6) Mutu penyelesaian, (7) Mutu hubungan interpersonal
antar sesama rekan kerja, atasan, dan bawahan. Keberadaan kondisi-kondisi ini
terhadap kepuasan karyawan tidak selalu memotivasi mereka. Tetapi ketidakberadaannya
menyebabkan ketidakpuasan bagi karyawan, karena mereka perlu mempertahankan
setidaknya suatu tingkat “tidak ada kepuasan”, kondisi ekstrinsik disebut
ketidakpuasan, atau faktor hygiene.
Faktor Intrinsik meliputi: (1) Pencapaian
prestasi, (2) Pengakuan, (3) Tanggung jawab, (4) Kemajuan, (5) Pekerjaan itu
sendiri, (6) Kemungkinan berkembang. Tidak adanya kondisi-kondisi ini bukan
berarti membuktikan kondisi sangat tidak puas. Tetapi jika ada, akan membentuk
motivasi yang kuat yang menghasilkan prestasi kerja yang baik. Oleh karena itu,
faktor ekstrinsik tersebut disebut sebagai pemuas atau motivator.
Teori dua faktor Herzberg mengasumsikan bahwa
hanya beberapa ciri pekerjaan dan karakteristik dapat menghasilkan motivasi.
Beberapa karakteristik yang menjadi fokus manajer akan bisa menghasilkan
kondisi kerja yang nyaman, tetapi tidak memotivasi karyawan. Motivasi ini
diukur dengan cara mewawancarai karyawan untuk menguraikan kejadian pekerjaan
yang kritis.
BAB
III
PENUTUP
III.A. Kesimpulan
Organisasi adalah suatu
tempat di mana banyak orang berkumpul dan saling berinteraksi satu sama lain.
Tetapi seiring berjalannya waktu, di dalam organisasi pasti pernah mengalami
konflik. Konflik tidak muncul
seketika dan langsung menjadi besar. Konflik itu berkembang secara bertahap. Yang dibutuhkan bukan
meredam konflik, tapi bagaimana menanganinya sehingga bisa membawa dampak yang
tidak negatif bagi organisasi. Dan
semua anggota bisa menjadikan konflik dalam organisasi sebagai sebuah
pembelajaran dan bagian pertimbangan atas banyaknya pemikiran-pemikiran yang
berbeda pada setiap anggota organisasi. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang
dibawa individu. Hal itu lalu menimbulkan perbedaan yang menyangkut ciri fisik,
kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya.
Dari
pembahasan yang telah disampaikan, maka dapat disimpulkan bahwa kehadiran
konflik dalam suatu organisasi tidak dapat dihindarkan tetapi hanya dapat
diminimalisir. Konflik dalam organisasi dapat terjadi antara individu dengan
individu, baik individu pimpinan maupun individu karyawan, konflik individu
dengan kelompok maupun konflik antara kelompok tertentu dengan kelompok yang
lain. Tidak semua konflik merugikan organisasi. Konflik yang ditata dan dikendalikan
dengan baik dapat berujung pada keuntungan organisasi sebagai suatu kesatuan,
sebaliknya apabila konflik tidak ditangani dapat merugikan kepentingan
organisasi. Yang terpenting adalah mengembangkan pengetahuan yang cukup dan
sikap yang positif terhadap konflik, karena peran konflik yang tidak selalu
negatif terhadap organisasi. Dengan pengembalian yang cukup senang, pimpinan
dapat cepat mengenal, mengidentifikasi dan mengukur besarnya konflik serta
akibatnya dengan sikap positif dan kemampuan kepemimpinannya, seorang pimpinan
akan dapat mengendalikan konflik yang akan selalu ada, dan bila mungkin
menggunakannya untuk keterbukaan organisasi dan anggota organisasi yang
dipimpinnya. Tentu manfaatnya pun dapat dirasakan oleh dirinya sendiri. Penyeselaian dari konflik adalah dengan cara
menimbulkan sikap dalam diri masing-masing, yaitu rasa saling menghormati,
menghargai dan rasa toleransi yang bisa menghindarkan kita dari
permasalahan yang menyebabkan terjadinya suatu konflik.
III.B. Saran
- Menanggapi konflik dengan kepala dingin, jangan emosi agar konflik dapat di selesaikan dengan baik.
- Meminimalisir ego pada sifat alami diri sendiri saat sedang ada dalam kelompok.
- Mengutamakan kepentingan bersama, jika mempunyai pendapat sosialisasikan bersama anggota kelompok yang lain.
- Motivasi rekan atau bawahan dengan apresiasi secara benar karena dukungan sangat penting dalam menyelesaikan masalah.
- Menghargai setiap pendapat yang disampaikan atau yang diutarakan.
- Selalu berfikir positif setiap ada masukan pendapat.
- Menyelesaikan setiap masalah yang timbul sampai tuntas.
- Menghindari konflik dengan berkomunikasi baik sesama anggota.
- Memanfaatkan setiap ide atau pendapat yang masuk.
- Keterbukaan pada setiap anggota kelompok harus ada agar dapat menyelesaikan konflik dengan baik dan tidak berlarut-larut.
DAFTAR PUSTAKA





0 comments:
Post a Comment